• Sipping my coffee

Palm Oil: Yay or Nay


Ilustrasi Pohon Kelapa Sawit

Palm oil yang mostly produced by Indonesia and Malaysia, aka minyak kelapa sawit, is part of our daily lives. It is not just cooking oil. It is everywhere from kitchen, bathroom to cars and electricity (as bio-fuel) – mulai dari minyak goreng, margarine, ice cream, coklat, sampai sabun dan berbagai produk kecantikan, mobil, perangkat elektornik memakai palm oil. It makes palm oil as the most widely consumed vegetable oil on earth. It is predicted that by 2022, the global demand of palm oil will be more than USD 88 billion.


Meskipun dipakai berbagai industry, minyak kelapa sawit ini sungguh controversial. Pernah lihat produk yang mencantumkan klaim palm oil free kah? Terutama produk makanan, minuman dan kosmetik. Beberapa consumer group dan NGO juga menentang palm oil. I was one of customers who against palm oil years ago. As much as I could do, I switched to palm oil free products. Aksi ini bukan tanpa dasar. Industri minyak kelapa sawit ditanam secara intensif untuk memenuhi kebutuhan pasar global. Lahan yang digunakan untuk penanaman sawit seringkali adalah hutan yang dialih fungsikan sehingga merusak ekosistem lingkungan, menghilangkan habitat binatang seperti orang utan, gajah dan macan dan ujungnya berdampak pada climate change. Gerakan boycott palm oil pun berdatangan dari banyak pihak dan negara.


Should we boycott palm oil? DI tengah derasnya kecaman terhadap palm oil dan banyaknya bisnis yang memanfaatkan movement no palm oil ini, personally I have decided to use palm oil again. Why? Simply because of two reasons as follow:


· The highest yield per hectare compared to other vegetable oils.

Di antara semua tanaman penghasil minyak nabati seperti bunga matahari, kedelai dan olive, per hektar tanah, kelapa sawit menghasilkan minyak 5-8 kali lebih banyak daripada tanaman lain. Saat ini kelapa sawit adalah tanaman penghasil minyak nabati yang paling efisien menggunakan tanah. Kebayang ga kalau kita boycott palm oil trus kita switch pakai olive oil atau coconut oil, lahan yang dibutuhkan untuk menanam kelapa dan olive agar dapat memenuhi kebutuhan minyak nabati global jelas akan lebih luas. Yang artinya, hutan yang dibabat untuk menanam tanaman penghasil minyak nabati akan lebih massive. Ilustrasi di bawah menggambarkan produktivitas kelapa sawit yang lebih tinggi ketimbang tanaman lain.





· It’s locally produced and contributes to Indonesian economy

Indonesia adalah salah satu penghasil minyak kelapa sawit terbesar di dunia. Perkebunan kelapa sawit memberikan kontribusi secara ekonomi kepada banyak pihak. Palm oil adalah salah satu ekspor andalan Indonesia. Palm oil juga berkontribusi kepada peningkatan kesejahteraan petani, di mana 41% perkebunan kelapa sawit di Indonesia dimiliki oleh small family farmers. Lagi, bayangkan jika kita beralih ke olive oil. Indonesia tidak memproduksi olive oil, it means we import it from other countries. Menggunakan minyak kelapa sawit berarti kita ikut berkontribusi pada perekonomian Indonesia.


Di balik semua kontroversi tentang dampak industry kelapa sawit terhadap lingkungan, we have to aware bahwa bukan minyak kelapa sawitnya yang bermasalah, tapi cara penanamannya yang bermasalah. As a customer, we should be wise. We can choose palm oil from companies that grow it in a sustainable way. Kita bisa memilih minyak kelapa sawit yang baik, yang diproduksi oleh perusahaan yang tergabung dalam RSPO (the Roundtable on Sustainable Palm Oil) yang artinya mereka berkomitmen memenuhi standar baik dari sisi lingkungan, komunitas, pekerja dan perlindungan terhadap hutan. Ada produsen-produsen minyak kelapa sawit di Indonesia yang tergabung dalam RSPO, yang dapat dicek di website RSPO.


Selamat memilih minyak kelapa sawit yang baik. Be a wise customer.



#palmoil #minyakkelapasawit #rspo #nopalmoil

About Me

This blog is written by an introvert. It is all about creating a road map of having a simple life, business and travel for fellow introvert. I write my blog while sipping my daily intake of sanity and you can enjoy my blog while sipping your coffee, too

 

Read More

 

Disclaimer

I am not a chemist, pharmacist, nutritionist, dietician or skincare expert. This blog is intended to share information. It should not be used as medical advice. DIY and recipes in this blog are based on my personal experiences. Those shared recipes haven't been tested in a lab. Please use information provided in this blog wisely.

 

 

© 2023 by Sipping My Coffee

  • White Instagram Icon