• Sipping my coffee

Circular Economy for Ampas Kopi: 3 Challenges

Diperbarui: Apr 25


Pernah dengar konsep "circular economy"?


Linear Economy VS. Circular Economy

Konsep ini secara harafiah adalah menjalankan kegiatan ekonomi secara circular sehingga tidak menghasilkan waste karena waste akan masuk kembali ke dalam proses produksi. Konsep ini berkebalikan dengan konsep ekonomi yang kita kenal selama ini “linear economy”. Di konsep linear economy, kegiatan ekonomi diringkas dengan “take-make-dispose” (ambil bahan baku dari alam – produksi, jual – buang setelah dikonsumsi). Konsep linear economic ini menghasilkan waste yang menumpuk dan menjadi berbagai masalah lingkungan dan kesehatan. Itu sebabnya konsep circular economy menjadi trend untuk mengatasi masalah dari konsep linear economy.


I have to say I was fascinated with this concept. Ini konsep yang powerful to make our planet a better place. Kita bisa berkreasi dengan “waste” dengan repurpose waste menjadi produk baru. I fell into ampas kopi karena memang I drink coffee everyday dan tiap hari pasti buang-buang sampah ampas kopi itu. Makin menjamurnya coffee shop juga menunjukkan potensi repurpose ampas kopi.


With a small team of coffee lover, we repurpose coffee waste into oil dimana minyak kopi tersebut kami pakai sebagai bahan baku personal care products. Hwell, repurpose ampas kopi sebenarnya ada berbagai alternative, mulai jadi minyak (baik untuk cosmetics atau bahan bakar), media tanam, textile, shoes, cups, frame kacamata, arang, activated charcoal, bahkan dipakai untuk cookies. Dan most of those choices ada riset akademisnya – termasuk kenapa kami pakai untuk bahan aktif personal care products.



ReBrew - Circular Economy Process

Setelah trial and error sekian lama (in our own home lab, with our own resources alias bootstrap), we run the business, launch the products. Kami mendapat banyak respon positif atas upaya repurposing ampas kopi. Bersama berjalan 2 tahun, we learn dan understand the challenges, obstacles of circular economy yang membuat kami harus rethinking, revisiting the idea. At least these three should be taken care of:


Operational

Running a circular economy business dalam kasus kami, membutuhkan handling penuh kehati-hatian. We need fresh coffee waste, ditangani dengan hati-hati dan higenis agar tidak tumbuh jamur dan bakteri. The process is challenging as it takes time, resources.


While the benefits of spent coffee grounds for skin have been studied dan di-publish di banyak peer reviewed journal, tapi kami belajar bahwa dalam melakukan bisnis, hasil lab dan riset ga cukup. Aspek bisnis, legal dan skala produksi harus dipertimbangkan. Apakah jika skala produksi diperbesar, biaya operasional akan turun dan investasi apa yang diperlukan untuk memperbesar skala produksi. Apakah we still can handle that required investment using our own resources (baca: apakah masih bisa bootstrap) atau kami harus mengejar dana investor? Note: we learnt that other personal care using coffee waste overseas are chasing investor to scale up (atau chasing competition)


Cost

Who said menggunakan waste berarti biaya produksi akan lebih rendah? We have discussed a challenging operation activity above. Biaya untuk pick up dan memproses ampas kopi menjadi personal care products itu engga murah (plus kami harus cek berkali-kali kandungannya menggunakan lab pihak ke-3 yang certified). At first, when I said to the manufacture that I want to use coffee waste extract, they were so surprised and they warned me: “Eh ngapain pakai dari ampas kopi. Ekstrak dari kopi yang baru ga mahal kog. Jangan-jangan malah coffee waste extract itu jauh lebih mahal lho.” And it’s 100% true! Kami gila dengan mengatakan bahwa dengan menggunakan ampas kopi, we make an impact for environment (ah probably not juga si)


At the end, when we run circular economy business, we need to check, apakah harga new material is cheaper or more expensive dari harga hasil circular business. Jika harga material dari proses circular economy ini more expensive, apakah ada additional intangible value yang bisa ditawarkan, semisal: it is good for branding or for CSR and whether it is meaningful atau engga.


Customer Perception

Ini dari ampas kopi? Kog mahal? Memang ampas kopinya dapetnya bayar? Pertanyaan ini sering kami dapat dari customers. Ampas kopi memang didapat tanpa bayar ke coffee shop tapi prosesnya mahal. Dan the idea of using waste for skincare ini masih perlu disebarluaskan - that coffee waste is much more than dipakai untuk scrub, dan it is safe to use coffee waste for skin – we handle this issue dengan registrasi BPOM for some of our products. However the main challenge dari sisi konsumen tetap: kog mahal, dengan harga segini saya mending beli produk (merek yang lebih terkenal, merek impor).


Memang ada pasar niche yang supporting our business – those who support zero waste, less waste and eco conscious lifestyle. However, relying only on this niche market can’t help us to survive. On the other hand, we realize we need marketing cost to build the market which we haven’t maximized our effort


PS: Another challenge adalah dari coffee shop point of view. Banyak juga lho coffee shop yang menawarkan, menjual ampas kopinya and asking like: how much will you pay for our coffee waste – ini yang bikin kami miris, those who produce waste masih minta bayaran kepada small business yang running circular economy dengan bootstrap. We will be more than happy to collaborate, tapi bukan dengan cara kami handle coffee waste dan masih disuruh bayar.


Those who are running circular economy business ini mostly memulainya dengan idealism tertentu, yang dalam perjalanannya yang challenging diperlukan competitive strategy to survive karena at the end, majority of konsumen tidak membeli idealism




Thank you for reading this "Circular Economy for Ampas Kopi: 3 Challenges". I hope you love and enjoy this post. If you do, please share with other and sign up here

#ekonomisirkular #circulareconomy #fromcoffeewastetocoffeepersonalcare #repurposespentcoffeegrounds #skincareampaskopi #recyclingampaskopi #upcyclingusedcoffeegrounds #greenentrepreneur #rebrew #circulareconomycriticism #circulareconomycritique #konsepcirculareconomy

About Me

This blog is written by an introvert. It is all about creating a road map of having a simple life, business and travel for fellow introvert. I write my blog while sipping my daily intake of sanity and you can enjoy my blog while sipping your coffee, too

 

Read More

 

Disclaimer

I am not a chemist, pharmacist, nutritionist, dietician or skincare expert. This blog is intended to share information. It should not be used as medical advice. DIY and recipes in this blog are based on my personal experiences. Those shared recipes haven't been tested in a lab. Please use information provided in this blog wisely.

 

 

© 2023 by Sipping My Coffee

  • White Instagram Icon