• Sipping my coffee

15 Things I Stop Buying

Minimalist Living

Saya sungguh mengagumi orang-orang yang totally committed dengan zero waste lifestyle. I wish I could be like them, yang sampah dalam setahun bisa dikumpulin dalam 1 toples kaca kecil (yang ukurannya kayak toples selai gitu). But I know I can’t transform myself dalam waktu singkat to live a zero waste life, so I adopt minimalist, low waste lifestyle. I have written how I started my minimalist life, and now I would like to update the progress. Progress nya engga fantastis. I just want to share 15 barang yang I stop buy – bisa karena saya sadar bahwa barang tersebut ga dibutuhkan, atau karena saya make instead of buy atau saya menemukan substitute yang low waste dan lebih ramah lingkungan.


1. Knickknack and toy

Who doesn’t like strolling along shelves di Miniso atau Scoop atau Daisho? Di situ ada thousands barang-barang lucu dengan harga terjangkau yang menggoda untuk dibeli. I get used to buy barang-barang lucu begini, yang finally end up jadi sampah. Saya dulu juga suka beli boneka – characters (Doraemon, Road Runner, Garfield), panda, gajah. All of them have already been donated. Then I stop buying barang-barang ini, karena saya tidak membutuhkannya. Apakah saya masih ke toko-toko barang knickknacks? Yes, hanya untuk window shopping, dan beli barang yang hanya jika bila diperlukan


2. Sabun Mandi

I learned to make my own soap bar 2 tahun lalu. I started with making coffee scrub soap bar yang kemudian berlanjut dengan eksperimen bikin sabun dengan opsi minyak dan method dan additives yang berbeda-beda. Dengan bikin dan pakai soap bar sendiri, I reduce sampah botol plastic.


3. Shampoo

Compared to bikin sabun, bikin shampoo ini lebih complicated, apalagi my scalp itu sensitive. Saya baru mulai bikin sendiri shampoo bar with green surfactants yang adalah turunan kelapa, plus essential oils dan additive berupa coffee grounds dan henna powder. I can also use other ingredients untuk bikin shampoo bar. Spirulina shampoo bar, eh? Bikin dan pakai shampoo bikinan sendiri ini juga langkah saya mengurangi sampah dari botol plastic kemasan shampoo


4. Fabric Softener

Fabric softener ini gunanya agar cucian kita lebih lembut dengan cara dipakai di rendaman terakhir, tanpa bilas. Did you know that fabric softener works by coating our clothes with a waxy film? Itu sebabnya cucian pakai fabric softener wangi dan lembutnya tahan lama. However, saya sensitive terhadap wangi-wangian. Hidung saya bisa sakit sekali. So I stop using fabric softener. Instead, I use garam krosok atau garam kasar untuk menggantikan fabric softener. Cucian jadi lembut tanpa wangi yang menganggu dan hemat di kantong juga.


5. Laundry Detergent

Saya punya eczema di telapak tangan, sehingga urusan pilah pilih laundry detergent jadi Pe-eR banget. Salah pakai laundry detergent, eczema bisa kumat, telapak tangan bisa gatal perih berhari-hari. Terakhir saya pakai eco laundry detergent yang diimpor dari Australia. It’s quite pricey dan carbon footprint nya significant banget. Then I replace my laundry detergent with soap bar. Yes, bener soap bar. I make my own soap bar yang tiap kali bikin selalu ada ada serpihan sabun, atau sabun yang jelek bentuknya, yang saya akhirnya pakai untuk cuci baju. Sabun sisa mandi yang tinggal kecil itu juga saya pakai untuk sabun cuci baju. Memang bersih? Bersih dong, kan sabun natural dibikin dari minyak dengan cleaning agent yang berbeda-beda – minyak kelapa itu cleaning agentnya paling bagus. Coba aja stain di cucian dikucek pakai sabun batang, hasilnya pasti bersih.


6. Cleaner

Dulu saya pakai macam-macam produk permbersih: pembersih lantai, pembersih toilet, pembersih dapur, dan sebagainya. But again, hidung saya sensitive terhadap bau-bauan wangi dan bahan kimia, so I change all of those cleaner products into: baking soda dan ethanol. Baking soda ini ampuh banget bersihin kotoran dan kerak di basin, wastafel sampe toilet. Untuk ngepel, saya pakai campuran air, alcohol dan essential oil. Hemat tempat, hemat di kantong juga.


7. Fragrance

Saya stop beli fragrance, mulai dari pewangi lemari, pewangi ruangan, body spray dan parfum badan. Untuk lemari, I replace it with a bag of dried used coffee grounds + baking soda untuk mengatasi kelembaban dan mencegah bau. I make my own room reed diffuser –just mix ethanol and essential oils of your choice, atau pakai electric diffuser. Body spray and perfume? Simple, tetes aja essential oil – I love using spearmint and peppermint essential oil.


8. Scrub dan Masker

I drink coffee every day, so I can use spent coffee grounds for body scrub – simply just add oil and sugar and essential oil to make it as coffee body scrub. Atau I can always use byproduct dari bikin bikin herbal infusion untuk scrub. How about masker? I use dried spent coffee grounds yang dicampur kaolin clay plus coffee infused oil, atau kadang pakai spirulina powder juga. Just add liquid chlorophyll, atau water atau honey. Jadi deh masker bikinan sendiri. Mudah bikinnya dan ramah di kantong.


9. Deodorant

Trying to avoid deodorant pasaran yang mostly mengandung aluminum, I make it myself. Jadilah deo powder dan deo oles. Daya tahannya cukup bagus meskipun masih berkeringat dan harus oles ulang (karena jelas deodorant bikinan sendiri tanpa aluminum pastinya bukan antiperspirant ya). It is easy to make dengan bahan-bahan yang ada di dapur such as baking soda, tepung maizena dan coconut oil


10. Body Lotion

After I learned the benefits of oil to skin, saya stop beli body lotion pasaran. I make and use body oil atau body balm atau lotion bikinan sendiri. Dari 3 opsi di atas, yang paling simple adalah bikin body oil. I usually use grape seed atau sunflower oil yang ringan dan cepat diserap kulit, then, for extra benefit, I add several drops of essential oils.


11. Buku, majalah, komik hardcopy

I live in an apartment dengan luas super terbatas. I have promised myself for not buying hard copy majalah, buku, komik dan menggantinya dengan e-book. Jadi kalau jalan-jalan ke Kinokuniya atau Gramedia, hanya untuk browsing buku dan lihat-lihat. Then I buy the books I like at Google Play Books – biasanya lebih murah dari versi hardcopy nya lho (dan hemat tempat!)


12. CD, DVD

Sama seperti buku, majalah, saya sudah tidak lagi beli CD ataupun DVD. Selain karena ga punya tempat buat nyimpen, saya juga sudah ga punya pemutar CD dan DVD. I simply subscribe to Spotify dan beli movie dari Google. Well, I don’t subscribe for Netflix, saya rasa saya bisa kalap ngabisin waktu nonton dan malah ga kerja hahaha…


13. Souvenir

I get used to buy oleh-oleh alias souvenir dari berbagai tempat – museum, zoo, theme park , tempat liburan. But then I realized I have a pile of them dan tak terpakai. Now I decide not to buy things but experience setiap kali liburan. Daripada saya beli barang, mending beli activity, feeding animals, dan take a lot of pictures using my mobile phone.


14. Face powder

Saya bukan pemakai bedak harian.Saya hanya merasa perlu pakai bedak ketika harus datang ke acara formal yang frekuensinya jarang banget, ga sebulan sekali deh. Dulu saya sering maksain beli bedak di cosmetics counter setiap kali mau ada event/kondangan. Dan selalu saja bedak itu ga habis, hanya terpakai beberapa kali, dan end up dibuang karena expired. What a waste. Jadi saya putuskan stop beli bedak. Sebagai ganti, saya bikin sendiri translucent powder dengan menggunakan dried powder and spices yang ada di dapur.


15. Lip balm, lipstick

Sama kisahnya seperti bedak, saya sering sekali membuang lipstick expired dalam kondisi hanya dipakai sesekali. Ini beneran buang-buang uang dan nyampah. Jadi saya ga pernah lagi beli lipstick dan lip balm. Anyway, bikin lip balm dan tinted lip balm itu sebenernya gampang. We only use beeswax, oil dan cocoa butter. Jadilah saya bikin-bikin sendiri secukupnya biar ga nyampah. Memang si, ga akan bisa bikin shade yang cakep kayak lipstick di pasaran, tapi buat saya cukuplah pakai tinted lip balm yang warnanya dari mineral color. I promise you to share the recipe in my upcoming articles


That’s all progress hidup minimalis ala sipping my coffee… Kamu punya saran atau idea apa? Lemme know in the comment below!



#thingsistopbuying #diy #minimalistlifestyle #zerowaste #lesswaste #Whaticanstopbuyingtosavemoney #bikinsendiri #minimalism

About Me

This blog is written by an introvert. It is all about creating a road map of having a simple life, business and travel for fellow introvert. I write my blog while sipping my daily intake of sanity and you can enjoy my blog while sipping your coffee, too

 

Read More

 

Disclaimer

I am not a chemist, pharmacist, nutritionist, dietician or skincare expert. This blog is intended to share information. It should not be used as medical advice. DIY and recipes in this blog are based on my personal experiences. Those shared recipes haven't been tested in a lab. Please use information provided in this blog wisely.

 

 

© 2023 by Sipping My Coffee

  • White Instagram Icon